sex moza

Hari baru berangkat senja, ketika kurasa cacing-cacing didalam perutku mulai mengamuk, namun enggan rasanya aku menghampiri meja makan, saat ini pikiranku mungkin sedang dilanda hal yang “lain”. “Sialan… !” gerutuku dalam hati, gara2 melihat peristiwa tadi, pikiranku mulai kotor, perutku serasa kenyang dan sering mendesir, birahiku menjadi naik.
Pikiran-pikiran kotor itu terus menerus membayangiku, mataku yang sedari tadi menatap televisi, sepertinya hanya sekedar mengarahkan pandanganku saja, namun pikiranku jauh dari materi acara yang disajikan. Tanpa kusadari tanganku masuk kedalam celana pendekku, mengelusnya perlahan dan kemudian mengurutnya dengan lembut, pelan, cepat dan semakin cepat.

“A..!” kaget aku mendengar suara dibelakangku, buru2 aku tarik tanganku dari dalam celanaku, segera kupalingkan wajahku ke arah belakang menuju arah sumber suara, “Eh Moz”, dengan gugup aku menjawab Moza, aku bersyukur senderan sofa menghalangi pandangan Moza terhadap “Aktivitas” yang aku lakukan, aku mencoba tersenyum.
“A… kirain kemana, lagi nonton tivi Aa ?” katanya lagi dan menghampiriku, kemudian duduk disampingku, “Iya nih, Cuma gak ada yang rame !” sahutku sekenanya menjawabnya, sambil memegang remote dan memencetnya berulang-ulang, seperti mencari siaran acara tivi yang kiranya cukup menarik untuk ditonton.



Aku meliriknya sekilas, dengan baju putih pendek berbelahan dada rendah jelas memperlihatkan kakinya yang panjang, potongannya yang pendek membuat pahanya terlihat jelas hingga pantatnya yang munjung kebelakang terlihat jelas lekuknya, hal ini jelas membuatku menarik napas panjang, entah apa yg ada dipikiranku, senang karena ada pemandangan indah disebelahku namun sekaligus menyesalinya karena tidak berani untuk menyentuhnya. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, mencoba menahan napas untuk membuang jauh2 pikiran kotorku dan berusaha untuk menenangkan dedekku yang sesaat tadi mulai mengendur dan berusaha untuk bangkit kembali.



“Seger banget Moz,” kataku mengomentari penampilannya, “Iya nih tadi abis berenang ama Mama dan Tante Marissa, coba tadi aa ikutan berenang, tidur mulu sih “ katanya sambil tersenyum sumringah. Aku nyengir membalasnya, “Ngantuk banget Moz, emang sih tadi kayaknya enak buat berenang, coba kamu bangunin Aa” kataku lagi, padahal dalam hatiku, kalo aku tadi ikutan renang, wuih.. bisa kacau !.



“Mama ama Tante kemana Moz ?” tanyaku padanya, “Tau tuh, tadi sih abis renang masih dikamar, tidur kali ” katanya menjawabku, “Ohh.. “ aku hanya menyahutinya singkat, “Duh laper nih, kamu laper gak Moz ?”, “Laper sih, tapi nanti aja dulu, Aa kalo mau makan, makan aja duluan, tadi Bi Inah, istrinya mang Dharta udah masakin tuh”, katanya sambil menunjuk dengan dagunya kearah meja makan.


Aku yang memang sudah lapar sejak tadi tanpa menunggu lebih lama, segera bangkit dari dudukku, menghampiri meja makan, namun baru saja aku hendak mengambil piring yang terletak diatas meja disalah satu bangku yang terdekat dengan kami, pintu kamar ruang tidur Tante Mala tampak terbuka, dan dari sana keluarlah sesosok tubuh yang cantik dan segar, dan tak lama kemudian menyusul keluar pula sesosok tubuh yang tak kalah cantiknya. Aku terpana melihat mereka, dengan dandanan yang mengundang, seolah mereka hendak pergi ke suatu pesta.



“Waw”, aku hanya bisa melongo dan tak ada kata-kata lain yang terucap, duh, mereka bagaikan para dewi yang baru turun dari kahyangan, bagaikan anak muda yang hendak pergi ke pesta untuk pertama kalinya, kalo diliatin terus mungkin tanpa sadar dari mulutku bakal menetes liur.. hehehe..

“Wah, Mama ama Tante pada mau kemana nih ?” dalam rasa keterkejutanku yang belum hilang, terdengar suara Moza memecah kesunyian, “Hmm, jelaslah kita-kita mau ngeceng, emangnya kamu aja yang bisa ngeceng”, sahut Tante Mala menjawab pertanyaan Moza sambil tersenyum, seolah tak menganggap pertanyaan Moza penting. “Idiih Mama..!” sahut Moza protes karena pertanyaannya dianggap angin lalu oleh sang mama. “Ini loh Moz, Tante kan mo ada reuni temen sekolah waktu SMA Tante dulu, acaranya malam ini, jadi kita-kita mau kesana loh Moz, So gimana dandanan kita2 ?” Tanpa menunggu jawaban dari Tante Mala, Tante Marissa menjawab pertanyaan Moza sekaligus meminta komentar dari Moza mengenai penampilan mereka.

“Loh kok Mama Ikut ?” Sahut Moza seakan tidak memperdulikan penampilan mereka dan malah seakan memprotes keikutsertaan sang Mama, “Lah Mama kan masih satu SMA juga ma Tante, jadi ya mama ikut juga la Moz !” sahut sang Mama. Kemudian tanpa diduga sang Mama menghampiri aku dan Moza, kemudian berkata “Fan, Moz, gimana penampilan Tante, Bagus Gak ?” dan layaknya seorang model diatas catwalk, Tante Mala bergerak berputar2 mengelilingi meja makan. Aku yang tadinya memegang piring, segera meletakkan piring ditanganku dan segera memasukkan tanganku kedalam mulut dan bersuit nyaring.. “suit.. suit”



duh kalau diliat dari dandanan Tante Mala dan Tante Marissa, mereka layaknya gadis belasan tahun, terutama penampilan Tante Mala, yang kunilai lebih “berani”, dengan baju warna hitam, yang terbelah dari mulai bawah pinggul sampai ke kaki, jelas menampilkan keindahan pahanya yang putih, panjang dan mulus. kupikir disini akan ada protes dari sang anak melihat penampilan sang Mama, namun setelah kutunggu beberapa saat ternyata tidak, sepertinya Moza sudah paham dengan karakter sang Mama, karena kalaupun diprotes akan percuma saja, so let it, percumah !.
Namun tidak dengan Tante Marissa, kulihat beliau berpenampilan lebih sopan, dengan memakai terusan warna putih.



Entah bagaimana sepertinya ada perasaan dalam diriku yang sukar kugambarkan, seperti sayang, cemburu atau apa, melihat mereka mengumbar kecantikan mereka, untuk dinikmati oleh orang lain. Tapi untunglah saat ini mereka tidak seperti yang sudah-sudah, biasanya mereka berpenampilan dengan menonjolkan belahan atau lekuk payudara mereka, namun kali ini mereka sepertinya kompak untuk hanya sekedar memperlihatkan bahu mereka saja !.

“Moz, ikut aja sekalian, kali aja ketemu sama Om-om tajir temen Tante, kali ada yang nyangkut” kataku kepada Moza sambil tersenyum penuh arti, “Ogah, idih najis, mendingan tidur di rumah dari pada ketemu pemuda kolot “ katanya sambil memonyongkan mulutnya kepadaku, “Hahaha” aku tertawa lepas, seolah berhasil aku memancing emosi Moza.

“Ok deh Moz, Fan, kalian di rumah baik2 ya…? titip-titip rumah “ sambil melangkah ke beranda, mereka mengangkat tangannya kepada kami, menandakan selamat tinggal, kami memperhatikan kepergian mereka, dalam hatiku ada sedikit rasa was-was memperhatikan mereka, duh jangan sampe mereka melakukan hal-hal yang tidak-tidak, ada pikiran kotor dalam benakku, jangan2 mereka nanti ketemu pacar mereka waktu SMA dulu, kemudian bernostalgia dengan mereka dan untuk merayakan pertemuan mereka setelah sekian tahun tidak bertemu mereka melakukan pertemuan yang “itu” .. duh.. !



Aku memperhatikan Moza sekilas, kulihat dia asyik memencet-mencet remote, sepertinya cuek dengen kepergian Mama dan Tantenya, sambil mengmbil piring yang kuletakkan tadi, kuperhatikan Moza, duduk setengah berbaring pada sofa, dengan baju terlihat jelas belahan dadanya yang rendah dari arahku berdiri, duh bikin hatiku deg-degan dan seperti ada gelitikan serr di perutku, aku membayangkan menonton teve sambil memeluk moza dari belakang, menyentuh dan memainkan payudaranya sambil menekan-nekan dedeku menyentuh pantatnya saja rasanya susah selangit, heheheh…

Aku duduk didepan sofa, tepat di depan Moza, malas aku duduk di meja makan, mending duduk di karpet tebal, menghadap televisi membelakangi Moza, berusaha menghirup aroma wangi dari perempuan di belakangku, ya itung2 sebagai penambah selera makan. Namun justru yang terjadi sebaliknya, aku yang sejak tadi mupeng terus, malah berpikiran macam-macam, makanan asal telan, televisi boro-boro disimak, yang ada didalam pikiranku adalah, bagaimana memanfaatkan situasi dan kondisi disini sebaik-baiknya, dimana didalam rumah sebesar ini cuma ada kami berdua, mang Dharta sang penjaga rumah entah berada dimana, yang jelas pikiranku yang ada saat ini adalah bagaimana caranya agar aku dapat memperoleh keuntungan dari situasi ini, jelas selama ini aku memang “kurang dekat” dengan Moza, selama ini walau hanya satu rumah, namun jarang sekali terjalin “komunikasi dua arah” yang sangat akrab dari kami berdua.



Waktu berlalu sepertinya sangat lama, selesai makan, setelah meletakkan piring kotor didapur, aku tadinya hendak duduk disamping Moza, di sofa, namun kulihat sepertinya sofa itu tidak muat untuk kami berdua, moza telah mengambil space terbesar, sehingga tidak enak rasanya kalo aku ikut duduk disofa tersebut, kalo gak muat terus di usir ama Moza, kan bisa malu seumur-umur aku. Akhirnya dengan berat hati aku mengambil posisi sama seperti aku makan tadi.

Mulanya aku hendak mengucapkan sepatah dua patah kata guna memecahkan kesunyian, namun seolah pikiranku blank menghadapinya, sulit lidahku untuk mengucapkan kata-kata, apa yang hendak kukatakan ? masa nanya masalah kuliah mulu ? basi ah !. tapi kan gak enak juga kalo duduk bedua tapi gak ada obrolan sama sekali. Sambil menyalakan rokok dan menghisapnya perlahan, berharap dengan merokok ada ide untuk membuka mulut dan menghilangkan kegugupan.
Akhirnya dari acara siaran tivi yang gak rame, kubuka omongan dengan menanyakan acara tivi kesukaannya walaupun sekedar basa-basi, dan obrolan berlanjut terus dengan santai, mengalir, sejam dua jam mungkin telah berlalu, namun dilain pihak, otak kotorku mulai bergerilya, mencari cara !

Dan sepertinya setan-setan berpihak padaku, memang dasar kalo sudah rejeki enggak kemana, sedang asyik-asyiknya kami ngobrol, dengan serunya.. tiba-tiba.. pettt !, listrik mati !
Sontak obrolan kami terhenti, moza terpekik perlahan, aku kaget, dan bertanya “Kenapa Moz ?”, “Duh Aa, Moza takut nih !” katanya dan saat itu serasa ada tangan halus yang memegang lengan bahuku erat. Rupanya Moza tadi begitu listrik mati, melompat berusaha beranjak turun, menurunkan kakinya dan tanpa diduga dia menginjak asbak yang aku pakai. Jelas sisi asbak dari keramik itu membuat kakinya terpeleset, entah terkilir atau tidak namun yang jelas ini membuat kakinya nyeri.

Saat ini disampingku duduk Moza sambil tangannya setengah memelukku, aku bingung apa yang harus aku perbuat, disekelilingku gelap gulita, aku menyalakan korek yang kupegang tadi, kulihat dalam kegelapan sepertinya raut muka Moza setengah pucat, entahlah apakah pucatnya dia karena kesakitan akibat kakinya tadi atau dari ketakutan akan gelap yang terjadi saat ini, ada sedikit rasa bersalah, gara-gara aku menaruh asbak sembarangan.

“Bentar Moz , A mo nyari lilin dulu” kataku sambil beranjak bangun. Dengan rasa pesimis aku berusaha menggapai meja disekeliling ruangan mencari dengan korek gas ku, dengan sebentar2 kumatikan dan kunyalakan akibat ada rasa panas yang menjalar, “Cepetan A, dapet gak ?” kudengar suara Moza, seolah berharap-harap cemas, setelah sekian lama aku mencari, dan hasilnya adalah nihil !
“Gak ada moz, ya udah deh... Susah nyarinya, a kan gak tau dimana naruhnya, coba a keluar dulu, a cari mang dharta, mungkin beliau ada dan punya lilin”, kataku dan dengan bermodalkan korek gas ditangan, aku bergerak menuju keluar ke paviliun, “A.. moza ikut !” terdengar suara Moza dibelakangku, langkahku terhenti, aku berbalik menghadapnya, dalam keremangan cahaya korek gas, kulihat Moza telah berdiri, dan berjalan tertatih-tatih menuju kearahku.

Aku menggamit lengannya, kemudian memeluk pinggangnya, sedangkan moza memegang bahuku, duh jarang-jarang terjadi nih, kami jalan berdua, perlahan dan itu memang sangat aku nikmati, karena mau tidak mau, saat ini payudara Moza menempel padaku... ngiri dah pokoknya kalo elo-elo pada liat !

Aku berharap mudah2an Mang Dharta tidak ada, kalo beliau ada dan memberikan lilin atau patromak mungkin keadaannya akan berbeda, dan jelas kemesraan ini akan segera berakhir.sesampainya di beranda depan, cuaca memang saat ini kurang bersahabat, dengan angin yang agak kencang dan keadaan langit yang berawan, dan sepertiny hujan mulai turun rintik-rintik, dan mungkin ini sebabnya aliran listrik dimatikan oleh PLN, mungkin karena didaerah ini masih banyak pohon-pohon besar, sehingga PLN mematikan arus listrik guna menghindari keadaan atau resiko yang timbul akibat adanya arus pendek.

Sulit kulihat kearah rumah didepan sana, sepertinya juga tak ada kehidupan sama sekali, sedangkan kulihat hujan semakin deras, dan suara petir juga terdengar sesekali. Kalo keadaan terpaksa mungkin aku akan berlari kearah jalan menuju ke tempat mang Dharta tinggal, namun ketika kulirik Moza untuk meminta izin meninggalkannya guna mencari mang Dharta, Moza seolah mengerti akan keinginanku dan berkata “Udah A, gak usah disamperin, mungkin Mang Dharta juga belom balik dari rumahnya, lagian hujan begini, dari pada Aa basah2an, mana gak ada payung lagi !”. “ya udahlah Moz, kita tunggu aja disini, mungkin Mang Dharta, nanti juga kesini “ Kataku lagi menenangkannya.

Menit demi menit berlalu, namun yang ditunggu tidak kunjung datang, sementara hujan semakin deras, dan angin juga semakin kencang, dari teras tempat kami duduk, hujan seolah mengincar kami, menyuruh kami untuk masuk, tampiasannya semakin merajalela menerjang kami, aku mengira mungkin mang Dharta dari rumahnya yang cukup jauh diperkampungan terhalang hujan menuju rumah ini, akhirnya aku mengajak Moza untuk masuk kedalam.

Saat ini mungkin jam telah menunjukkan pukul 9 lewat, kami berusaha menuju kedalam rumah, huh, sambil memasuki rumah, aku menutup pintu rapat2, kemudian menguncinya, Heh, rumah segede gini, udah lama tidak ditempati, dalam keadaan gelap gulita, seram juga rasanya, dan itu juga mungkin yang dirasakan oleh Moza. Kembali ke ruang keluarga, aku mendudukkan Moza di sofa, dan akupun duduk disebelahnya.

Moza membaringkan kepalanya disandaran sofa, rebah, seolah lelah dan takut menghinggapinya, kakinya berada sisamping pahaku, dengan rasa yang entah bagaimana, aku berusaha memijit pergelangan kakinya, kaki yang kukira semula terkilir sepertinya tidak ada lagi rasa sakit yang dideranya, entah apa yang ada di dalam benak kami masing2, mungkin dipikiran kami saat ini hanya berharap mudah2an listrik segera menyala kembali.



Aku memperhatikan tubuh indah didepanku ini, heran padahal udara lumayan dingin pada saat ini, dengan bajunya yang tipis dan setengah terbuka, memperlihatkan paha mulus, yang tak tahan aku untuk tidak mengelus dan mengusapnya, sesekali saat kilat menyambar, terlihat ujung bawah pakaiannya hanya sampai sebatas pinggul bagian, memperlihatkan dengan jelas celana dalam warna putih yang melekat menutupi gundukan mungil didepanku.
Entah darimana datangnya sepertinya udara semakin dingin, angin seperti menerobos masuk kedalam, kulihat gorden bergerak-gerak tertiup angin, dan tiba-tiba suara petir seperti terdengar dahsyat di dekat kami, Moza terpekik sesaat, kaget, kemudian mengangkat kepalanya dan berbalik, kali ini dia sambil menutup kupingnya, menyandarkan kepalanya di pahaku. “Aku hanya nyengir melihatnya, “Ya ampun Moz, udah gede gini kok takut ma petir”, Kataku memecah kesunyian, “ah Aa, Moza takut nih, jangan gitu dong !” katanya seperti setengah merajuk ! memang kalo kulihat sekeliling, dari bayangan cahaya yang tapak diluar akibat kilat yang menyambar-nyambar, layaknya seperti film horror, membuat suasana semakin mencekam, namun sepertinya hal itu akan berlangsung lama, duh, pikiran kotor yang semula menghinggapiku kini juga dicampur oleh rasa horror yang menyelimuti kami berdua.

Rasanya seram juga kalo terlalu lama berada diruang keluarga yang cukup luas ini, akhirnya aku memutuskan untuk menuju kamar kami masing2, mungkin masuk kamar akan menyelamatkan kami dari rasa takut, “Moz, pindah ke kamar aja yuk ah, aa juga udah mulai ngantuk nih”, kataku padanya. Moza mengangkat kepalanya yang semula berbaring dipahaku, dan seperti mengikuti apa saja mauku, kami berdua berdiri, melangkah menuju kamar, seperti yang kuceritakan kamar kami memang bersebelahan, dari posisi kami berdiri kamar Moza adalah berada paling depan dibanding kamarku, maka aku antar dia menuju kamarnya, hingga mencapai pintu.

“Aa mo tidur dimana ?” Tanya moza begitu melihat aku hanya mengantarnya sampai depan pintunya, dan hendak berbalik menuju pintu disebelahnya. “Ya dikamar sebelahlah, masa mo tidur diluar “ Kataku tersenyum, “ Jangan dong A, aa tidur disini aja ma Moza, temenin Moza, serem nih, moza kan takut !” katanya, entah mimiknya seperti apa, namun dari suaranya terdengar seperti memelas, memohon aku untuk berada disampingnya. Nah Ini Dia, kataku dalam hati, ini yang aku harapkan !. Namun sepertinya ada rasa takut yang menghinggapiku, entah kenapa, sepertinya malam ini ada pikiran-pikiran sehat yang hinggap didalam otakku, sepertinya ada rasa sayang yang lebih terhadap Moza, lebih dari sekedar rasa napsu yang menyelimutiku, ada rasa takut kalo-kalo ada yang memergoki kami tidur berdua, bagaimana kalo tiba2 nanti Tante mala dan Tante Marissa pulang terus melihat aku tidur di kamar Moza, bisa2 aku nanti dituduh masu menyelinap ke kamar Moza dan menuduh aku macam2 dengannya. Kalo Tante mala mungkin sudah cuek, namun bagaimana dengan Tante Marissa, aku kan belum mengenalnya secara mendalam, bisa2 aku dimarahinya habis-habisan karena melihatku berada seranjang dikamar Moza ?. Tapi bagaimana aku menolaknya, menolak untuk menemaninya dikamar ?

“Yee...masa takut sih sendirian, biasanya kan kamu juga sendirian di rumah” kataku setengah meledeknya, dan ini mungkin adalah caraku, tanpa mengiyakan atau menolaknya, aku dengan cepat menghindarinya dengan menggerakkan badanku menuju pintu kamarku yang berada tepat disamping pintu kamarnya. “Aa....” setengah menjerit Moza berlari juga, mengejar aku, menuju pintu kamarku, “Pokoknya gak mau sendirian, kalo gak moza tidur dikamar Aa” katanya lagi, sambil memegang erat-erat lengan bahuku dna mengikutiku melangkah, Aku terkekeh melihat ulahnya namun mungkin ini adalah hari mujurku, kalo Moza tidur dikamarku mungkin ini persoalan lain, berarti kan moza dong yang menyusup kedalam kamar aku dan bukannya aku yang menyelinap ke kamarnya, hehehe...



Segera aku tutup pintu kamar namun aku tidak menguncinya, berabe ah, kalo tiba2 Tante Mala dan Tante Marissa datang dan melihat kami di dalam kamar yang terkunci, bisa berpikiran macem2 mereka. Dan tanpa dikomando, Moza merebahkan diri di atas ranjang, walaupun udara menurutku sangat dingin, namun dalam keremangan, kulihat moza sepertinya tidak menarik selimut yang berada dibawah kakinya, ia hanya memeluk guling, dan kemudian dia berkata “Awas loe A, jangan tinggalin Moza, kalo gak Moza tereak2 nih !” aku hanya menjawabnya singkat “Iya...!” sambil duduk dipinggiran ranjang. Dan sepertinya moza mengerti, ia membalikkan badannya, menggeser tubuhnya seolah mempersilahkan aku untuk tidur disampingnya dan guling yang semula dipeluknya kini dilepasnya seolah menjadi sebagai pembatas tidur kami berdua. Aku merebahkan diri disampingnya, kini pikiran-pikiran kotor itu datang kembali, kulihat tubuh mulus yang kini membelakangiku, paha yang kini menekuk itu seolah menyodorkan pantat yang bahenol dengan celana dalam warna putih yang hanya tertutup sebagian seakan terus menggodaku, aku berusaha mengalihkan perhatian dengan menutupi mataku dengan pergelangan tanganku, membuat mataku terpaksa terpejam seakan hendak mengusir pikiran-pikiran kotor dari dalam benakku.



Beberapa saat telah berlalu, namun mata ini seakan tidak mau terpejam, pikiran2 itu semakin menguasaiku, seperti ada yang membisikkanku untuk segara melakukan aksi.. “ayo Fan..cepat lakukan, toh ini yang kamu tunggu-tunggu sejak tadi... cepat Fan...situasi ama kok !
Begitulah sepertinya terus terngiang-ngiang didalam benakku, dan seakan ada yang menggerakkan tanganku, aku mulai memindahkan guling yang memisahkan kami berdua ke sisi badanku yang lain, sehingga kini tak ada batas pemisah lagi yang ada hanya ruang antara saja.
Namun bagaimana aku menggeser tubuhku agar dapat menempel pada tubuhnya, jangan2 gerakkanku ini malah membuatnya merasa risih tidur berada disebelahku, kemudian memintaku untuk bergeser menjauh, kan malu ! duh..!

Kudengar hujan sepertinya belum ada tanda untuk berhenti, suara petir masih sesekali terdengar dikejauhan. Sejak tadi kulihat pada tubuh Moza tidak ada gerakan sama sekali, hanya dapat kulihat gerakan dadanya turun naik, mungkin dia telah tertidur pulas, lelah kali setelah melakukan renang sore tadi. Namun sampai disini belum ada keberanian bagiku untuk melakukan aktifitas lebih jauh. Hingga ...

Aku merasakan hawa semakin dingin, aku bermaksud untuk menarik selimut yang berada dibawah kaki kami berdua, dan mungkin itulah jalan untuk melakukan aksi lebih jauh, sambil menarik selimut aku menggeserkan badanku untuk segera merapat dengannya, kututupi tubuh kami berdua, seolah menyatakan bahwa selimut ini lebarnya hanya muat bila kami tidur merapat. Sambil bergerak seolah memastikan bahwa selimut telah menutupi seluruh badan Moza, aku menggerakkan tangannya, mengangkat dan memindahkannya, masuk kedalam selimut, serta untuk memastikan bahwa Moza telah tertidur pulas.

Tidak ada gerakan perlawanan, sepertinya moza benar-benar telah tertidur pulas, aku juga memasukkan seluruh tubuhku kedalam selimut, hingga kini hanya kepala kami berdua saja yang keluar dari selimut, otak kotorku kini semakin merajalela. Aku berbaring terlentang, sementara moza membelakangiku, untuk mengetes apakah moza benar-benar pulas atau ada protes terhadap apa yang aku lakukan, aku menaruh punggung tanganku diatas pantatnya yang diselimuti oleh celana dalamnya, menggosok-gosokkannya sejenak, dan menunggu reaksi atas apa yang kulakukan.

Tidak ada reaksi sama sekali, dan ini jelas membuatku semakin ingin melancarkan agresi, kugeser perlahan tubuhku, merapat ketubuhnya, berbalik, menghadapnya, kemudian seolah bahwa aku juga tertidur pulas, dan tidak menyadari apa yang aku lakukan, seolah menganggap bahwa didepanku adalah sebuah guling dan bukan seorang perempuan cantik, putih dan mulus, aku memeluknya. Hanya memeluknya tanpa ada aktifitas lain, menunggunya bereaksi.

Beberapa saat aku menunggu dan tidak ada reaksi sama sekali, seakan wanita cantik yang telah dewasa ini benar-benar telah tertidur pulas, mengingatkanku pada sang Mama yang kalau tertidur seperti mayat yang sulit untuk dibangunkan. dan didalam benakku semakin lama semakin terngiang, seperti ada yang menyuruhku untuk berbuat lebih.
Dan kini tangan kiriku yang memeluknya, mulai melancarkan aksi lebih jauh, bergerak seolah memindai seluruh area yang bisa dijangkaunya, aku meletakkan lenganku diatas pinggangnya yang melekuk bagaikan gitar spanyol, menyelipkan tanganku kebawah lengannya, berusaha untuk menjangkau bagian depan tubuhnya, dadanya, menyentuhnya perlahan, menekannya sesaat , menunggu kalau-kalau ada reaksi yang diberikan moza, dan aku dapat menariknya dengan cepat untuk menghindari segala kemungkinan.



Aku berusaha mencari, gundukan bukit indah, merabanya dan membayangkannya, entah berapa ukuran yang aku raba ini, mungkin 36 B, yang jelas gundukan besar dan halus ini kini berada dalam telapakku, aku mengelus-ngelusnya perlahan, dan kini dedeku yang berada dalam celana pendekku semakin mengeras dan menempel dengan ketat pada selangkangan Moza.

Dan seperti biasa, semakin kita minum air laut semakin dahaga kita, begitu juga denganku, mungkin kalau dalam keseharian tidak mungkin aku menyentuh payudara moza dan kini aku dengan bebas bisa menyentuhnya, namun menyentuh saja menurutku belum cukup dan aku menginginkannya lebih. Aku segera menarik tanganku yang memeluk Moza, tidak ada reaksi yang terjadi, menahan napas sejenak, memasukkannya kedalam celana pendekku, terus menelusup kedalam celana dalamku, mengelus-ngelusnya sesaat, mengocoknya perlahan, membuatnya semakin membesar dan membesar.



Ide gila baru demi menuntaskan hasrat birahi juga semakin menggelora, timbul dalam otakku, untuk mengeluarkan sang dede, menarik ristleting celanaku kemudian menurunkan celana dalamnya, hingga berada dibawah buah zakarku, kini sang dede, mencelat keluar, melewati lubang ritsleting, menjulang dengan perkasa. Entah apa yang merasukiku, membalikkan badanku, menghadap kearah Moza yang kelihatan semakin pulas tertidur. Kemudian aku menarik celana dalamnya, perlahan-lahan menurunkannya sampai sebatas paha, hingga kini didepanku tergeletak tubuh cantik, mulus dengan baju yang awut-awutan, mempertontonkan bagian kewanitaannya !.



Sambil memegang sang dede, kemudian mengarahkannya kedalam celah belahan bokong perempuan di depanku, ada sedikit rasa takut menghinggapiku, takut bila ada kemungkinan wanita di depanku ini terbangun karena ada sesuatu yang mengganjal dibelahan pantatnya.


Sepertinya menempelkannya pada bokong indah dan memasukkannya kedalam celah diantara selangkangannya sudah merupakan sensasi tersendiri yang kualami, seandainya perempuan yang tertidur pulas didepanku ini bukan merupakan perawan suci, mungkin aku akan bertindak lebih, ada rasa takut, rasa sayang yang kurasakan, otak murniku seolah mengatakan “cukup, cukup sampai sejauh ini saja, kamu jangan bertindak terlalu jauh !”.

Aku kembali memasukkan tanganku kearah depannya, memeluknya seolah tak ingin terlepas darinya, merasakan sensasi lebih, membayangkan seolah wanita dihadapanku rela dan pasrah aku lakukan apa saja terhadapnya. Memeluknya perlahan, menyentuh bagian belahan payudaranya, mengelus-ngelus tonjolannya dengan sabar dan halus, agar sang empunya tidak merasa terusik, namun semua itu serasa masih kurang, aku ingin lebih !.


Tanganku mulai bertindak lebih jauh, aku mulai menarik bagian yang menutupi payudaranya, menarik tali yang menyangkut dipundaknya, menurunkannya hingga sebatas lengan bahu, kini payudara putih mulus dan montok itu semakin terkuak terbuka. Dan ini yang membuatku terkejut, kukira Moza menggunakan Beha, ternyata gundukan bukit tersebut tidak dilapisi oleh pelindung apapun !. Dalam kegelapan, tanganku merayap, menelusuri bukit indah tersebut, mengelus seakan-akan menyentuh guci antik, yang jika diperlakukan kasar akan membuatnya lecet.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit, aku menikmati sensasi yang diberikan, imaginasi semakin berkembang, aku seakan terhanyut, lepas, menikmati apa yang diberikan oleh otak mesumku !. imaginasiku semakin liar dan tak terkendali, dengan perlahan aku mulai memaju mundurkan pantatku, seakan dedeku meminta untuk digesek-gesekkan kedalam belahan pantat moza, sementara tanganku semakin agresif, dari yang semula hanya menyentuh, mengelus, dan meraba-raba, kini perlahan mulai menekan, dan sedikit memberikan remasan. Hingga...



Entah apa yang dirasakan oleh moza, mungkin dalam mimpinya, ada sesuatu yang membuatnya terusik, atau memang karena sang tubuh memberikan respon akibat adanya suatu aksi, tiba-tiba ia membalikkan badannya, tubuhnya yang semula membelakangiku, kini terbaring terlentang, sebelum itu terjadi, dengan cepat aku menarik tanganku, menarik pantatku, dan segera berbalik, membuat tubuhku terlentang, sejajar dengannya. Kini tubuh kami berdua terlentang, sama-sama menghadap ke atas.

Aku menunggu beberapa saat, ada rasa takut menghinggap, takut akan keadaan, bahwa Moza akan terbangun, sedangkan pada saat itu, tubuhnya yang berada dibawah selimut, mungkin telah acak-acakan dengan posisi baju yang melorot kebawah, dan payudara yang mencuat keluar, sedangkan celana pendek beserta celana dalamku telah melorot kebawah dengan posisi si dede mencelat keluar menjulang, namun untunglah saat ini tubuh kami berdua telah tertutupi oleh selimut.

Kudengar deru napas halus, kulirik kesamping dan kulihat Moza, nampak masih tertidur pulas, bibir merah delima, nampak terkatup rapat, hidung mancung dengan wajah yang menampilkan kecantikan dan kepolosan, seperti tersenyum. Keindahan yang kulihat dalam kegelapan saat ini benar-benar memukau diriku. Duh seandainya bibir itu dapat kusentuhnya dengan bibirku, memadukannya, merasakannya, mungkin tidak ada didunia ini yang dapat menyaingi keinginanku ini. Namun tak ada keberanian dalam diriku untuk melangkah sejauh itu.

Kepuasan mungkin tak akan pernah dapat terpenuhi sejauh manapun kita mencarinya, kita akan selalu mengharapkan lebih, begitu juga dengan diriku, kenikmatan yang tadi kudapat sepertinya belum mencapai puncaknya dan aku ingin semua ini tertuntaskan, setelah beberapa saat menunggu dan sepertinya tidak terjadi hal-hal yang kiranya dapat menggagu proses ritualku, kuangkat kembali tanganku, membalikkan badanku kembali kearah moza dan mulai menggerakkan kembali agresi militer ke jalur dada.



Moza sepertinya tidak terusik dengan ulahku, seakan terhanyut dengan mimpinya. Kuraba kembali bagian dadanya, menyentuh bukit lunak yang terbuka lebar, meraba, mengelus dan meremasnya perlahan, memainkan tonjolan kecil dipuncaknya dengan jari telunjuk dan tengahku, menelusuri lingkaran hitam disekelilingnya seakan membuat jalur lingkaran baru, kemudian menyentuh serta menjepit putingnya, seakan ingin memberikan sensasi kepadanya, dan membuat gunung kembar itu seperti semakin mengeras dan kencang, serta benda kecil dipuncaknya juga semakin keras dan menegang.


Dan seranganku semakin menjadi-jadi, aku kembali ingin merasakan sesuatu yang lebih dan baru, aku mengangkat kepalaku, menahan badanku dengan tangan kananku, menjulurkan leherku kearah dada Moza, kini aku mencoba mencicipi benda berwarna pink kecil yang menonjol diatas gundukan putih mulus, menjulurkan lidahku, memainkannya dengan ujung lidahku dan aku mencoba untuk menghisapnya secara perlahan. Dan seranganku semakin merajalela, seakan aku tak perduli dengan akibat yang ditimbulkan dari semua ini, sambil menghisap-hisap pelan putting dengan aroma tubuh yang khas ini, tanganku meraba bukit kecil dibawah, menelusurinya, meraba gundukan itu, menyentuhnya perlahan dan mengelus-ngelusnya merasakan bulu-bulu keriting halus yang serasa kasar bila diraba dari luar celana dalam, dan sampai sejauh ini Moza seakan tak terganggu dengan apa yang kulakukan.



Detik bergerak ke menit, entah sudah berapa lama waktu berlalu, tangan kiriku yang menyerang bagian bawah semakin agresif, seolah aku ingin mengetahui bagaimana reaksi yang terjadi bila penetrasi yang kulakukan semakin dalam dan jauh, dari hanya mengelus bagian luar celana dalam, hingga aku mulai menggeser celana dalam tersebut, menyingkapkannya, dan mulai memainkan jemariku didalam sana.



Perlahan aku mengelusnya dengan jari tengahku, kemudian mulai menekan-nekan belahan bibir bawahnya, mengusap-usapnya, terus.. terus… dan terus…. berulang-ulang kali kulakukan, dari bagian gundukan yang ditumbuhi bulu-bulu halus, hingga kebawah, dan tanpa diduga sepertinya ada reaksi dari apa yang kulakukan, kaki kanan moza secara mendadak bergerak, upss dengan cepat aku menghentikan serangan, sejenak, dan moza melebarkan kakinya, kini posisi paha moza seperti terbuka, dan bagian bawah belahannya tersebut semakin terbuka lebar !.



Aku membalikkan tubuhku, pegal kurasakan, kini aku berbaring sejajar dengannya, kini tanganku yang kanan bergerak menuju bagian tubuhnya, memegang gundukan mungil dibawah, entah apa yang ada dibenakku, seolah-olah menjadi gelap, aku melancarkan serangan semakin gencar. Meraba bagian selangkangannya, meraba bagian bawahnya, kini kurasakan bagian dalamnya semakin lembab dan semakin basah, sementara tangan kiriku memegang si dede, mengocoknya, mengikuti irama tangan kananku yang sedang menyentuh dan meraba bagian sensitif Moza.

Dalam dinginnya malam, sepertinya hanya terdengar deru napasku yang berat dan memburu dan ketika napasku kutahan, entah terdengar pula napas berat dan memburu yang terdengar halus sepertinya moza juga mengalami sensasi yang sama, walau mungkin dari mimpi ataupun alam bawah sadarnya.

Hingga… ketika ada dorongan yang sangat kuat untuk segera menuntaskannya segera, ketika sang birahi menyeruak mencapai puncak, menghentikan serangan pada daerah lawan, memfokuskan pada pertahanan diri, dari gempuran yang akhirnya tak dapat kutahan, memuntahkan seluruh amunisi, cairan panas dan kental kini bertumpahan dari pipa meriamku !. Menahan napas sesaat, lemas serasa seluruh badan.



Sesaat hening menyeruak, tanpa kusadari hujan telah berhenti, kurasakan deru napas halus yang memburu sepertinya terdengar dari sebelahku, namun sepertinya aku tak perduli, lemas kini yang kualami, setelah sensasi yang terjadi tadi, tak perduli ketika moza membalikkan badannya, membelakangi diriku kembali. Aku hanya menarik napas perlahan, terpejam, mencoba untuk membuat diriku tertidur.

Entah berapa menit berlalu, mataku seolah tak mau terpejam, tiba-tiba listrik yang semula padam, menyala, menerangi seluruh isi kamar, membuat mataku silau sesaat. Mengejap-ngejapkan mata, berusaha bangkit, haus mendera, duduk aku disisi moza, menatapnya sesaat. Tubuh cantik yang kini tergolek disampingku ini, terpejam tanpa beban. Duh seandainya yang tergolek ini adalah istriku, alangkah bahagianya diriku, menghayalkannya sesaat, dan seperti ada yang memerintahkan dalam diriku, kuangkat selimut yang menutupinya, menikmatinya sejenak kemudian membetulkan pakaiannya yang tak beraturan oleh ulahku, menatanya kembali ke keadaan semula, menarik tali pundak yang turun ke tempatnya semula, kemudian menutupinya dengan selimu

Comments :

1
Anonim mengatakan...
on 

Kisah nyata nih Bro? BTW Mozza itu apanya lo ya? Sepupu? Majikan?

Poskan Komentar